Header Ads

Lewat Kontes Politik, Caleg Perempuan Hendaknya Mampu Jembatani Keinginan Masyarakat

Kayuagung,SRINE. Com--Ketua KPU OKI, Dedi Irawan SIP Msi, saat menjadi narasumber pada pelatihan caleg dan kader perempuan di Kabupaten OKI, di ruang rapat Bende Seguguk I, pada Rabu (14/11/2018) menyampaikan bahwa, Caleg perempuan harus mampu melakukan kampanye secara efektif dan tepat sasaran. Pertama, caleg perempuan perlu melakukan pemetaan politik dan membentuk zona marking. Pemetaan politik tersebut—bisa melalui survei ataupun riset lainnya—untuk mengetahui demografi pemilih dan peta dukungan pemilih di dapil yang bersangkutan. Ini untuk menentukan ke mana sang caleg harus kampanye (zona merah) dan isu apa yang akan diangkat.

" caleg perempuan itu perlu melakukan kampanye kreatif. Kampanye kreatif ini sangat efektif untuk menarik simpati pemilih. Tidak seperti kampanye pada umumnya, kampanye kreatif berisi dua hal sekaligus, yakni gagasan dan hiburan. Cara ini lebih efektif masuk ke psikologi pemilih. Kampanye kreatif berisi persuasi yang sangat halus, terlihat tidak menggurui pemilih namun sangat efektif mempengaruhi pemilih," ujarnya

Lanjut Dedi, kampanye kratif telah terbukti memenangkan banyak kontestan, baik kontestan pada pilkada, pilpres, ataupun pileg. Diharapkan calon legislatif (caleg) perempuan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan yang maju pada pemilu legislatif (pileg) 2019, dapat mengetahui kondisi dari masing-masing daerah pemilihan (dapil) mereka.

“Jika ingin menjadi caleg, satu hal yang harus diketahui adalah kondisi masing-masing dapil. Misal, bagaimana sistem kehidupan masyarakat di sana (dapil), karena jadi anggota legislatif ini artinya bekerja untuk masyarakat,” ujarnya

Menurut Dedi, bahwa selama periode 2014-2019, dari 45 kursi yang ada di DPRD OKI, hanya ada enam anggota legislatif perempuan yang menduduki kursi tersebut. Artinya, jumlah tersebut jelas tidak mencapai 30 persen dari yang harus diisi oleh caleg perempuan.

“Jika dilihat dari jumlah perempuan yang saat ini duduk di kursi dewan, memang jumlahnya tidak mencapai 30 persen, tapi inilah pilihan rakyat. Ada enam orang, dan dua diantaranya merupakan hasil PAW,” ungkapnya.

Dedi menyatakan, sebagai penyelenggara bahwa KPU sendiri tidak akan berpihak dengan siapapun pada pemilu 2019 nanti. Akan tetapi, pihaknya sangat mengapresiasi upaya pelatihan yang diberikan kepada caleg dan kader partai perempuan tersebut.

“Agenda ini sebenarnya bagus dilaksanakan, tapi tetap sejauh mana para caleg perempuan tersebut dapat mendulang suara di dapil mereka masing-masing, karena pada pileg 2019 nanti ada 190 orang caleg perempuan yang ikut kontes politik ini,” ungkapnya.

Dedi menambahkan, ada tiga hal yang harus dipegang oleh para caleg perempuan ini, yaitu jati diri, jual, dan janji.

“Jadi caleg ini adalah wakil rakyat, sehingga paling tidak keberadaan mereka bisa menjembatani apa yang diinginkan oleh masyarakat itu sendiri," tegasnya (Nil)

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh rajareddychadive. Diberdayakan oleh Blogger.