News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

DLH Prabumulih Perkuat Program Maggot untuk Kurangi Sampah dan Emisi

DLH Prabumulih Perkuat Program Maggot untuk Kurangi Sampah dan Emisi


SRIWIJAYA NEWS |  PRABUMULIH – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Prabumulih mendukung pengembangan pengolahan sampah organik berbasis budidaya maggot sebagai upaya mengurangi timbunan sampah sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.

Program tersebut merupakan bagian dari kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup bersama United Nations Project  Sucofindo yang menyasar 10 kabupaten dan kota di Sumatera Selatan, termasuk Kota Prabumulih.

Perwakilan program dari Sucofindo menjelaskan, pada tahun 2026 terdapat 10 desa dan kelurahan di Kota Prabumulih yang mendapatkan Program Kampung Iklim (Proklim). Salah satu wilayah yang masuk dalam program tersebut adalah Kelurahan Muara Dua.

"Kelurahan Muara Dua didaftarkan dalam Program Kampung Iklim karena memiliki berbagai kegiatan yang mendukung pelestarian lingkungan. Salah satunya aktivitas Komunitas Prabumanggot yang fokus pada pengolahan sampah organik menggunakan maggot," ujarny, Rabu (10/6/26).

Menurutnya, Prabumanggot dinilai memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan melalui pengelolaan sampah organik yang diolah menjadi pakan maggot. Kegiatan tersebut menjadi contoh nyata upaya pengurangan sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Program Proklim sendiri bertujuan mendorong masyarakat melakukan berbagai kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, termasuk pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.

"Intinya bagaimana membuat lingkungan menjadi lebih baik dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Salah satu caranya melalui pengolahan sampah organik agar lebih bermanfaat," katanya.

Meski program pendampingan berlangsung sekitar satu tahun, pihak pelaksana berharap kegiatan pengolahan maggot yang telah berjalan dapat terus berkelanjutan setelah program berakhir.

"Kami berharap apa yang sudah diinisiasi kelompok maggot ini dapat terus berkembang. Apalagi sudah ada dukungan dari berbagai pihak, termasuk melalui program CSR," tambahnya.

Sementara itu, Ketua Prabumanggot, Triyatno, mengatakan komunitas yang dipimpinnya memiliki visi bersinergi dengan pemerintah dalam mengurangi volume sampah, khususnya sampah organik yang mendominasi lebih dari 50 persen total sampah yang dihasilkan masyarakat.

"Kami lebih fokus pada pengolahan sampah organik karena berdasarkan data, mayoritas sampah yang ada di setiap wilayah merupakan sampah organik. Ini yang menjadi dasar kami mengembangkan pengolahan sampah berbasis maggot," ujarnya.

Menurut Triyatno, keberadaan Prabumanggot tidak terlepas dari dukungan DLH Kota Prabumulih. Berbagai bantuan yang diberikan pemerintah telah mendorong berkembangnya pengelolaan sampah organik di daerah tersebut.

"Sinergi dengan DLH tidak bisa dipisahkan. Tanpa dukungan dan bantuan dari pemerintah, kami bukan siapa-siapa. Rumah Maggot yang saat ini berjalan merupakan bentuk nyata dukungan pemerintah kepada kami," katanya.

Selain fokus pada produksi maggot, Pihaknya juga berperan sebagai pusat edukasi dan pelatihan bagi masyarakat, komunitas, instansi, maupun lembaga yang ingin mempelajari pengelolaan sampah organik dan budidaya maggot.

"Kami ingin menjadi wadah edukasi bagi masyarakat agar semakin peduli terhadap lingkungan, terutama dalam pengelolaan sampah yang selama ini menjadi persoalan bersama," jelasnya.

Meski demikian, Prabumanggot masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait ketersediaan bahan baku yang harus diangkut dari berbagai lokasi. Menurutnya, sampah organik sebenarnya sangat melimpah, baik dari pasar, hotel, rumah makan maupun sumber lainnya. Namun tantangan terbesar adalah biaya mobilisasi dan transportasi.

"Kalau bahan baku sebenarnya banyak dan gratis. Kendala kami ada pada transportasi, biaya operasional, dan mobilisasi untuk mengangkut sampah organik ke lokasi budidaya," ungkapnya.

Ia berharap adanya dukungan lebih lanjut dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan pelaku usaha, guna membantu penyediaan bahan baku secara berkelanjutan melalui kerja sama dengan berbagai usaha yang menghasilkan sampah organik dalam jumlah besar.

Menurutnya, semakin banyak sampah organik yang dapat dikelola, semakin besar pula produksi maggot yang dihasilkan. Ke depan, Prabumakot juga berencana mengembangkan hilirisasi produk maggot agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

"Kami berharap ke depan ada hilirisasi produk, baik dalam bentuk maggot segar maupun maggot kering. Pasarnya sudah ada dan permintaannya cukup tinggi. Tantangan kami saat ini adalah menjaga konsistensi produksi," katanya.

Kepala DLH Kota Prabumulih, Drs. Mulyadi Musa, menegaskan pemerintah kota mendukung penuh pengembangan budidaya maggot yang dilakukan Prabumanggot, mulai dari penyediaan bahan baku hingga pemasaran hasil produksi.

"Dari hulu hingga hilir kami siap mendukung. Untuk bahan baku, kami akan memanfaatkan sumber-sumber sampah organik dari fasilitas pemerintah, seperti rumah sakit dan sampah rumah tangga," ujarnya.

Mulyadi berharap budidaya maggot tidak hanya berkontribusi terhadap pengurangan sampah, tetapi juga mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar melalui berbagai inovasi produk.

"Maggot dapat diolah menjadi pelet pakan ikan yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Namun untuk pengembangan itu kami masih membutuhkan dukungan peralatan, salah satunya melalui bantuan dari Sucofindo," pungkasnya. 

Tags

Minat Bergabung

Kirimkan CV anda ke redaksi Posmetro dibawah ini atau ke klikosmetro@gmail.com.

Posting Komentar