Pertanian Organik Ubah Nasib Petani di PALI, Pendapatan Naik Tiga Kali Lipat
SRIWIJAYA NEWS | PALI — Peralihan ke sistem pertanian organik membawa perubahan signifikan bagi petani di Kelurahan Talang Ubi Utara, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Salah satu pelaku perubahan tersebut adalah Sutarni (54), petani yang kini aktif mengembangkan budidaya padi organik sekaligus memberdayakan kelompok perempuan tani di wilayahnya.
Sutarni mengawali aktivitas pertaniannya dengan membantu suaminya, Joni Endro, Ketua Kelompok Tani Rejomulyo. Namun, perjalanan mereka tidak selalu berjalan mulus. Pada 2016, tanaman padi yang mereka budidayakan mengalami gagal panen akibat serangan jamur yang dipicu penggunaan pupuk kimia berlebihan. Dua tahun kemudian, serangan ulat grayak kembali menyebabkan kerugian.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada ekonomi keluarga. Untuk memenuhi kebutuhan produksi, mereka terpaksa berutang untuk membeli pupuk. Di saat yang sama, pembayaran listrik rumah sempat tertunggak dan biaya pendidikan anak mengalami keterlambatan.
Sebelum menerapkan sistem organik, produktivitas lahan tergolong rendah. Petani menggunakan benih sekitar 100 kilogram per hektare dengan varietas seperti Mekongga, Ciherang, dan Inpari. Sistem budidaya sangat bergantung pada pupuk kimia, pestisida, dan ketersediaan air yang terus-menerus.
Produktivitas saat itu hanya berkisar 3,6 hingga 4 ton gabah per hektare atau setara 2,5 hingga 3 ton beras per hektare. Harga jual beras berada pada kisaran Rp10 ribu per kilogram, sementara biaya produksi terus meningkat.
Perubahan mulai terjadi pada 2021 melalui Program Pusat Jaringan Pertanian Organik Terintegrasi dan Sustainability (PUJANGGA) yang dijalankan PT Pertamina EP Pendopo Field melalui skema Community Involvement and Development (CID). Program tersebut memberikan dukungan berupa sekretariat kelompok, peralatan pertanian, serta pelatihan bagi Kelompok Tani Rejomulyo dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Rosela.
Melalui program itu, petani mulai menerapkan metode pertanian organik. Penggunaan pupuk kimia digantikan pupuk berbahan jerami dan kotoran ternak. Sistem tanam juga berubah dengan penerapan jarak tanam 30 x 30 sentimeter menggunakan caplak, sehingga kebutuhan benih turun drastis menjadi sekitar 5 kilogram per hektare.
Selain itu, pengelolaan air dilakukan lebih efisien dan pengendalian hama memanfaatkan bahan alami seperti asap batok kelapa serta campuran susu, telur, dan madu.
Perubahan metode budidaya tersebut berdampak langsung pada peningkatan produksi dan kualitas hasil panen. Varietas padi yang ditanam kini meliputi pandan wangi, mentik susu, beras merah, dan beras hitam yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Produktivitas meningkat menjadi 5,6 hingga 6 ton gabah per hektare atau setara 4 hingga 4,5 ton beras per hektare. Harga jual beras organik mencapai Rp20 ribu per kilogram, atau dua kali lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
Saat ini, sistem pertanian organik diterapkan di lahan seluas 15 hektare yang dikelola 25 petani dengan rata-rata kepemilikan lahan sekitar 0,6 hektare. Dari sisi ekonomi, pendapatan petani yang sebelumnya berkisar Rp2,5 juta per bulan meningkat menjadi sekitar Rp8 juta per bulan.
Pemasaran beras organik dilakukan melalui jaringan pelanggan tetap, promosi dari mulut ke mulut, serta penjualan secara daring. Tingginya minat konsumen dinilai didorong oleh kualitas beras yang lebih baik dan persepsi produk yang lebih sehat.
Tidak hanya fokus pada budidaya padi, Sutarni juga menginisiasi pembentukan Kelompok Wanita Tani Rosela pada 2024. Kelompok yang beranggotakan 20 perempuan tersebut mengelola lahan seluas setengah hektare di kawasan Pusat Pemberdayaan Masyarakat Pertamina (PPMP).
Di lahan tersebut, anggota kelompok membudidayakan berbagai tanaman obat keluarga dan hortikultura, seperti rosela, jahe, kunyit, kencur, bawang dayak, pegagan, kumis kucing, sambiloto, serta aneka sayuran.
Hasil panen kemudian diolah menjadi produk bernilai tambah, antara lain teh rosela, bandrek, peyek, dan stik ubi. Kegiatan tersebut menghasilkan pendapatan kelompok sekitar Rp2 juta per bulan.
Selain menjadi pusat produksi, lahan yang dikelola kelompok juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat dan pelajar. Pengunjung dapat belajar langsung mengenai budidaya tanaman, pertanian organik, serta pemanfaatan tanaman obat keluarga.
Transformasi yang terjadi di Talang Ubi Utara menunjukkan bahwa penerapan pertanian organik tidak hanya meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani, tetapi juga membuka peluang pengembangan usaha, pemberdayaan perempuan, serta pendidikan berbasis lingkungan di tingkat masyarakat.

Posting Komentar