Header Ads

Tetap Merdeka’ di Tengah Era Abundance of Information

Oleh : Arafah Pramasto,S.Pd. (Penulis Lepas & Blogger Kesejarahan1) Penggunaan teknologi memberi kemungkinan manusia untuk memperoleh kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidup ataupun untuk berinteraksi sesamanya. Sejarah bangsa Indonesia ikut menyaksikan masuknya perkakas-perkakas modern yang diperkenalkan bangsa Barat – utamanya adalah Belanda - pada masa kolonial (penjajahan). 

Diawali dengan penggunaan senjata api sebagai peralatan utama untuk menundukkan perlawanan kerajaan-kerajaan lokal. Belanda lalu memperkenalkan penggunaan teknologi informasi maupun transportasi, keduanya diterapkan oleh pemerintah kolonial hanya untuk kepentingan penjajahan semata. Pulau Sumatera sebagai salah satu wilayah terpenting setelah Jawa-Madura, tentu ikut merasakan dampak dari perkembangan sejarah tersebut, termasuk di antaranya adalah Sumatera Selatan. 

“Teknologi” Penjajahan : Informasi, Transportasi, & Eksploitasi Pemerintah Hindia-Belanda mulai menerapkan teknologi pengiriman informasi yang lebih cepat melalui medium elektromagnetik pada abad ke-19. Awalnya, pemerintah kolonial membuka hubungan Telegraf antara Batavia dan Bogor sejak 23 Oktober 1856, setahun berikutnya ikut dibuka hubungan Telegraf dari Batavia ke Surabaya. 

Pada tahun 1859, bersamaan dengan saluran Telegraf di Jawa yang telah yang sudah mencapai panjang 2800 km, pemerintah Hindia Belanda dengan memanfaatkan cabang Telegraf Muntok-Palembang berusaha membuka hubungan memakai kabel laut antara Batavia dan Singapura, meskipun awalnya sempat terputus. Setidaknya pada akhir abad ke-19 Pulau Jawa sudah memiliki hubungan Telegraf dengan Pulau Sumatera sampai Pulau Weh di utara Aceh. 

Dengan teknologi ini,komunikasi yang berkaitan dengan jual-beli hasil bumi Hindia Belanda menjadi lebih mudah. Setelah teknologi Telegraf, penggunaan Telepon juga mulai berkembang di Hindia Belanda sejak 1882 dan dimonopoli pemerintah sejak 1806. Selain pada bidang telekomunikasi, guna mempercepat pengangkutan hasil bumi, di Sumatera Selatan contohnya, pemerintah kolonial juga membangun jalur kereta api dari Kertapati (Palembang) ke Prabumulih (1914), berturut-turut kemudian dibangun jalur Tanjung Karang-Kota Bumi. (1920), Prabumulih-Baturaja (1923), Muara Enim-Lahat (1924), Baturaja-Martapura (1925), Kotabumi-Negararatu (1926) dan lintas terakhir Negararatu-Martapura (1927). 

Dengan demikian lintas Palembang-Panjang diselesaikan sepanjang 529 km. Salah satu dampaknya ialah pada tahun 1927 sebagian kopi rakyat daerah dataran tinggi bagian selatan (Ranau, baturaja, dan Martapura) diangkut ke Palembang dengan kereta api, tidak lagi menggunakan kapal atau perahu. Saat ini Indonesia telah merdeka, maka tema yang berkaitan dengan masalah teknologi tidak lagi sebatas masalah eksploitasi hasil bumi sebagaimana yang terjadi di era penjajahan Belanda itu. 

Indonesia Modern : Bijak Menggunakan Teknologi Indonesia saat ini mengalami era Abundance of Information atau ‘Banjir Informasi’ sebagai akibat dari kemajuan teknologi. ‘Ponsel Pintar’, Laptop, maupun Tab sudah menjadi perkakas ‘wajib’ bagi manusianya, hal ini juga nampak di tengah masyarakat Sumatera Selatan. 

Dengan kemampuan mengakses jaringan internet, bermacam jenis informasi dapat dijangkau dengan mudah. Masalah yang muncul ialah banyak sekali ditemukan konten- konten yang berisi informasi tidak kredibel bahkan Hoax maupun juga yang menyebarkan kebencian sesama. 

Keadaan ini diperparah dengan skema bisnis iklan yang berdasarkan pada trafik situs / konten, semakin tinggi trafik maka semakin banyak profit (untung) yang didapat. Tidak heran jika informasi yang seharusnya memberi manfaat bagi intelektual manusia, hanya sebatas menjadi ‘komoditas’ semata, selama memenuhi ‘kebutuhan pasar’, tanpa meninjau validitas, asal ditulis dan disebarkan. Belum lagi dengan adanya data bahwa Indonesia menempati peringkat ke-4 pengguna

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh rajareddychadive. Diberdayakan oleh Blogger.